Minggu, 03 September 2017

Tren Hoax dan Informasi Ngaco tentang Manajemen Keuangan

Zaman sekarang begini dengan kemajuan teknologi apa-apa menjadi mudah. Butuh referensi tugas tinggal googling, mau cari tau background seseorang juga tinggal googling... Tapi herannya, masih saja banyak yang jadi korban berita atau informasi hoax.. Dapat info dari instant messenger langsung saja main forward, lihat status orang di social network langsung re-share, padahal mestinya dicek terlebih dulu...

Harus saya akui untuk verifikasi berita jauh lebih mudah dilakukan apalagi zaman sekarang ini media-media konvensional sudah mulai berpindah dari media cetak ke media online.  Yang lebih sulit adalah mencari referensi akademik yang valid, karena ini memang butuh effort lebih buat baca-baca jurnal atau paper dengan istilah-istilah ekslusifnya yang seringkali masih dalam bahasa inggris, beda dengan berita, dimana kita baca headline bisa langsung beres... Kalaupun butuh verifikasi lebih lanjut, nggak akan seribet baca jurnal, karena mayoritas berita jaman sekarang isi artikelnya pendek-pendek.

Salah satu yang membuat saya heran adalah ketika saya sedang mencari referensi tentang manajemen keuangan. Dari berbagai blog saya nemu artikel tentang perhitungan cost of equity dengan menggunakan metode CAPM (capital asset pricing model). Sedihnya adalah hampir semua blog itu nggak punya pemahaman yang benar... Untuk teori generiknya  mereka hanya copy-paste dari buku, dan begitu masuk ke teknis perhitungan langsung ketauan kalo si penulis itu kurang ilmunya di bidang manajemen keuangan.

Contohnya, ada penulis yang menghitung annual return  dari monthly holding period rate saham perusahaan, dan dia menghitungnya cuman return bulanan dikali dengan 12... Itu sih keterlaluan ya menurut saya... Sudah masuk ke corporate finance tapi nggak bisa bedain geometric dan arithmatic return itu bener-bener keterlaluan... Artinya yang bersangkutan bahkan nggak ngerti bahwa rate yang dipakai dalam konsep time value of money itu hakikatnya compound interest yang disederhanakan dengan perhitungan geometric return... Tapi akhirnya saya nemu juga sih yang bener... Di blognya itu memang ndeso minimalis, tapi konten blognya berbobot... Sampe saya ngecek ke jurnal-jurnal dari Aswath Damodaran,  artikel-artikel di investopedia dan lain-lain kontennya memang sesuai. Nama blognya sutarmin.com, dan di dalam salah satu postingannya blogger itu membahas tentang capm dan cara perhitungannya sampe ngasih link ke excel perhitungannya. Kalo mau dicek silakan cek sendiri, paling gampang kita nonton video-videonya Damodaran, salah satunya yang membahas langsung tentang valuasi:


Yang bikin sedih adalah tidak sedikit blog dengan konten bagus seperti itu malah terkubur di bagian bawah hasil pencarian. Malah yang ngaco dan tukang copy-paste edit yang ada di bagian atas hasil pencarian... Ditambah lagi sepertinya masih banyak masyarakat indonesia yang kurang effortnya bahkan untuk sekedar googling dan memverifikasi informasi. Di sisi lain, fakta itu juga perlu menjadi masukan buat blogger-blogger yang bener untuk belajar lebih banyak tentang optimasi mesin pencari dan mempertimbangkan penggunaan pseudonym di internet... Karena pada akhirnya percuma kita punya konten bagus kalo nggak ada yang tau; mau menyebarkan ilmu yang baik tapi tidak sampai juga jadinya sia-sia. Saya sih yakin itu si penulis sutarmin punya background yang mumpuni di bidang keuangan, minimal tentang teknis perhitungan capm, tapi mungkin karena dia nggak mau buka-bukaan tentang backgroundnya, jadi first impression orang juga jadi ragu-ragu; padahal itu konten yang benar dari sudut pandang ilmu manajemen keuangan korporat (referensi saya sih bukunya Gitman, Principle of Managerial Finance)

Selasa, 09 Mei 2017

Sedekah Jadi Kaya - Apa Kata Data?

Sekitar tahun 2010an di kalangan sebagian masyarakat muslim sempet nge-hype konsep bersedekah untuk mencapai keinginan duniawi (khususnya harta & materi). Konsep itu tertulis dalam buku yang ditulis oleh Pak Ustad Yusuf Mansyur yang judulnya The Miracle of Giving, dan juga bukunya Iphho 'Right' Santosa judulnya 7 Keajaiban Rezeki. 

Diantara para pelaku yang antusias untuk mengamalkan konsep tersebut, saya seringkali mendengar bagaimana Bill Gates sebagai orang terkaya versi forbes seringkali all-out dalam mendonasikan hartanya. Kalau kata mereka,  hukum dan janji Tuhan itu universal, jadi, terlepas kewarnaganegaraan, agama atau keyakinannya, kalau bersedekah bakalan dapat "rezeki" yang berlipat ganda.

Dari perspektif saya, mereka itu kok sepertinya berusaha menjustifikasi fakta bahwa Bill Gates bisa konsisten jadi orang kaya raya karena sedekahnya yang super besar? dan kenapa mereka mendefinisikan rezeki hanya sebagai harta dan materi? Bukannya dalam islam, kesehatan atau anak yang sholeh juga termasuk rezeki?  Hal itu  pula yang jadi latar belakang penulisan artikel kali ini, yaitu, untuk menjawab pertanyaan: Apakah betul sedekah itu bisa bikin kaya harta dan materi?

Setelah googling sana-sini, kesimpulan sementara saya sih nggak demikian. Hal ini bisa dilihat dari gambar berikut:


Sebagaimana yang dikutip dari CNBC dan Forbes, hasil analisis oleh Chronicle of Philanthropy menggunakan data dari IRS (Internal Revenue Service) menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat Amerika kalangan menengah dan kalangan bawah mendonasikan paling banyak dibandingkan orang-orang Amerika kelas atas.

Data di atas juga menunjukkan jumlah donasikan relatif terhadap penghasilan seseorang. Menurut saya ini ukuran yang logis. Sebagai ilustrasi, si A dengan penghasilan 100,000 kalau donasi 20,000 berarti itu 20% kapasitasnya dia. Sedangkan si B dengan penghasilan 3000,000 kalau donasi 300,000 berarti itu 10% kapasitas penghasilan dia.

Secara nominal sudah pasti orang kelas atas mendonasikan uang dalam jumlah yang lebih banyak. Tapi kalau dinilai dari kapasitasnya, "sedekah" yang dikeluarkan oleh orang - orang kelas bawah dan menengah itu lebih dari orang kelas atas.

Dari sumber dan pemikiran tersebut saya berkesimpulan (sementara) bahwa:
  1. Tidak ada ceritanya sedekah bikin orang menjadi kaya raya secara materi, kecuali kalau Tuhan menerapkan sistem kapitalis dan menilai 'sedekah' dari besarnya nominal uang bukan dari effort atau pengorbanan seseorang.

  2. Rezeki tidak selalu sama dengan harta dan materi, karena dalam agama Islam definisi rezeki itu luas, termasuk didalamnya kesehatan, petunjuk atau ilmu.